Wednesday, 4 July 2012

Tauhid menurut perspektif cak nur

Tauhid menurut perspektif cak nur

Perkataan tauhid makna harfiyahnya adalah “menyatukan” atau mengesakan. Kata tauhid dimaksudkan sebagai faham “me maha-esa-kan tuhan” istilah tauhid pertama kali dipakai oleh mutakalimin atau pada zaman ilmu kalam baru berkembang . Istilah tauhid secara tepat menunjukkan isi pokok ajaran kitab suci, yakni ajaran tentang mengesakan tuhan. Kata tauhid itupun secara tepat menggambarkan inti ajaran semua nabi dan rasul tuhan.
Pada dasarnya kata tauhid itu pun tidak termaktub dalam al Qur’an, tetapi bukan berarti kata tersebut hampa dalam al qur’an, karena yang ada di dalam al qur’an adalah kata yang merupakan turunan dari tauhid itu sendiri seperti kata (ahad dan wahid ) dan kata ahad dan wahid itu pun merupakan representasi dari kata tauhid itu sendiri yakni “ tentang ajaran untuk meng-esa-kan tuhan.”
Secara etimologis tauhid berasal dari akar kata “wahhada-yuahhidu” yang artinya menjadikan sesuatu satu atau dengan kata lain dapat dialihbahasakan menjadi “meng-esa-kan.
Dalam bukunya yang berjudul “LENTERA AL QUR’AN” Prof. Quraish sihhab mengungkapkan “ jika anda ingin melukiskan jaran islam dalam satu kata maka kata itu adalah tauhid. Demikian kesimpulan para pakar. Tauhid ( keesaan Tuhan) merupakan suatu prinsip lengkap yang menembus seluruh dimensi serta menatur seluruh aktivitas makhluk. Dari tauhid lahir berbagai ajaran kesatuan yang mengitari prinsip tersebut, misalnya kesatuan alam raya, agama, ilmu, kebenaran, umat, peribadatan manusia dan lain-lain. Kemudian dari masing-masing itu lahir pula tuntunan dan semua beredar pada tauhid.
Dalam konsep Islam yang dikembangkan oleh Nurcholis madjid dikatakan bahwa islam secara generik berarti sikap berserah diri terhadap Tuhan. Sikap ini secara inheren mengandung beberapa konsekuensi, pertama, konsekunsi dalam bentuk pengakuan yang tulus bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang mutlak, penngakuan ini merupakan kelanjutan logis bagi hakikat konsep ketuhanan. Yaitu bahwa Tuhan adalah wujud yang MUTLAK. Yang menjadi sumber semua wujud yang lain.
Karena ke-maha-esa-an Tuhan dan kemutlakan-Nya, wujud Tuhan adalah wujud kepastian. Justru Tuhanlah satu-satunya wujud yang pasti. Semua selain tuhan adalah bentuk yang tak pasti, nisbi . Termasuk manusia sendiri, betapapun tingginya kedudukan manusia sebagai puncak ciptaan tuhan. Maka sikap memutlakkan nilai manusia baik yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Adalah bertentangan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa atau tauhid.
Tauhid dan masalah percaya kepada Allah.
Dalam pandangan keagamaan umumnya umat muslim di indonesia terdapat kesan amat kuat bertauhid adalah hanya berarti beriman atau percaya kepada Allah. Namun apabila kita mengkaji lebih dalam dan teliti kitab suci al qur’an. Ternyata bertauhid tidaklah sepenuhnya demikian. Contohnya orang-orang musrik makkah yang memusuhi Rasulullah dahulu itu adalah kaum yang benar-benar percaya kepada Allah.
Dan sungguh jika kau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “siapakah yang menciptakan langit dan bumi” pastilah mereka akan menjawab Allah!. Katakan: apakah kamu renungkan sesuatu (berhala) yang kamu seru (sembah) selain Allah itu? Jika Allah menghendaki bahaya atasku, Apakah mereka mampu atas melepaskan bahaya itu? Dan jika Dia(Allah) menghendaki rahmat untukku, apakah mereka(berhala-berhala) mampu menahan Rahmat-Nya? Katakan Muhammad : cukup bagiku Allah saja, kepada-Nya lah bertawakal mereka yang mau bertawakal. (q.s Az-Zumar ; 38)
Firman yang merupakan penuturan kaum kafir itu dengan jelas membawa kita kepada kesimpulan bahwa tauhid tidaklah cukup dan tidak hanya berarti percaya kepada Allah saja. Tetapi pula mencakup pengertian yang benar tentang siap Allah yang kita percayai itu dan bagaimana Kita bersikap kepada-Nya serta kepada obyek-obyek selain Dia
Maka orang arab pra Islam itu sudah percaya kepada “Allah” mereka pun percaya bahwa Allah lah yang menciptakan Alam semesta. Tetapi meski begitu apakah mereka sudah dikatakan beriman? Atau bertauhid?. Mereka tidak dikatakan sebagai al mu’minun (atau orang beriman) dan tidak pula dikatakan al muwahidun( orang-orang yang bertauhid). Sebaliknya mereka disebut kaum yang menyekutukan Allah (musrikun) yaitu kaum yang memiliki pemahaman bahwa Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. Padahal dengan sadar mereka mengakui bahwasanya sekutu dalam keilahian Tuhan itu juga merupakan ciptaan tuhan belaka bukan tuhan itu sendiri.
Lebih jauh lagi, pengertian orang arab Pra Islam itu tentang Allah masih penuh dengan Mitologi misalnya di bangsa arab ada kepercayaan terhadap berhala-berhala dan seperti mitos binatang-binatang seperti misalnnya burung gharnaq(gagak). Yang dipercaya mampu memberi pertolongan.
Kesemua itu menjadi latar belakang sosial-budaya Jazirah arabia bagi tugas suci( Risalah, Mission sacree) Nabi Muhammad. S.A.W untuk menyampaikan seruan kepada umat manusia agar membebaskan diri dari berbagai kepercayaan palsu itu dan berpegang kepada kepercayaan yang benar.
TAUHID DAN IMAN YANG MURNI
Jadi percaya kepada Allah tidak sendirinya berarti tauhid sebab percaya kepada allah masih saja mengandung kemungkinan percaya kepada yang lain-lain sebagai peserta Allah dalam Keilahian. Dan ini merupakan problematika manusia. Bahwa manusia pada umumnya memang percaya kepada Allah, namun kepercayaan itu tidaklah murni sebagaimana digambarkan dalam surat yusuf ayat 103-106
103. dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya.
104. dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka ( terhadap seruan Mu ini) sebab seruan adalah pengajaran bagi seluruh alam.
105. dan betapa banyak tanda-tanda(kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui namun mereka berpaling darinya.
106. dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah bahkan mereka mempersekutukan-Nya.
Diantara manusia memang ada yang mengaku dirinya sebagai atheis. Namun atheis merupakan minoritas kecil dalam masyarakat manapu. Karena atheis bukan merupakan problematika utama umat manusia. Sebaliknya problematika umat manusia adalah politheisme atau syirik. Yaitu fahan yang sekalipun berpusat kepada Allah yang maha Esa, namun terbuka peluang bagi adanya kepercayaan kepada wujud-wujud lain kepada yang bersifat ketuhanan, meskipun lebih rendah daripada Allah itu sendiri. Maka sangatlah wajar dalam al Qur’an jarang sekali yang membahas tentang atheis, sebaliknya pembahasanya lebih banyak tentang politheisme atau syirik.
Karena masalah pokok umat manusia adalah politheisme, maka program pokok umat manusia adalah membebaskan manusia dari belenggu paham tuhan banyak itu dengan mencanangkan dasar kepercayaan yang diungkap dalam kalimat “an nafy wal isbat ” atau negasi konfirmasi yakni “ Tiada tuhan selain Allah.
Dengan negasi-konfirmasi(Tiada Tuhan selain Allah) itu dimulai proses pembebasan. Yaitu pembebasan dari belenggu kepercayaan yang palsu. Tapi demi kesempurnaan pembebasan itu, manusia harus mempunyai kepercayaan kepada sesuatu yang benar, sebab hidup tanpa kepercayaan samasekali adalah hal yang mustahil.
Kalimat an nafy wal isbat atau dalam istilah populernya adalah kalimat syahadat diibaratkan dalam al Qur’an sebagai;
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kaimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya yang kuat dan cabangnya(menjulang) ke langit. ( q.s Ibrahim: 24)
Dengan syahadat seorang muslim paling tidak mengakui bahwasanya tiada hal lain yang lebih besar, lebih sempurna dari Allah. Dengan syahadat manusia mengakui kelemahanya dihadapan Allah,
Kalimat syahadat diawali dengan persaksian tentang pengingkaran la ilaha (tiada tuhan), kemudian disusul dengan penetapan ilallah (kecuali Allah) pencari kebenaran akan menemui kebenaran itu bila ia berusaha menyingkirkan terlebih dahulu segala macam ide, teori, dan data yang tidak benar dari benaknya, persis apa yang dilakukan seseorang ketika ia mengucap kalimat an nafy wal isbat dengan segala kesadarannya.
Dengan kalimat syahadat kita sesorang telah memurnikan keimanannya, bahwa tiada yang Paling sempurna “kecuali Allah, tiada yang lebih tinggi kecuali Allah, Tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Kebenaran yang sejati adalah milik Allah.
Tauhid dan Pembebasan diri.
huston smith seorang ahli filsafat modern, dalam pengamatannya atas fenomena islam. Islam berarti sikap pasrah atau tunduk kepada Tuhan justru menjadi pangkal kebebasan kaum muslim dan sumber energi mereka yang hebat. Sebagaimana terbukti dari ledakan politik luar oleh orang arab muslim pada abad ke-7.
Oleh karena itu untuk manusia pada umumnya dan mereka yang telah memiliki kepercayaan kepada Tuhan, proses pembebasan itu tidak lain ialah pemurnian kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa.. pertama, melepaskan diri dari kepercayaan kepada yang palsu, kedua dengan pemusatan kepercayaan hanya kepada yang benar.
Huston Smith menyinggung bahwa ke engganan umat manusia untuk menerima kebenaran antara lain karena sikap menutup diri yang timbul dari reflek agnostik, atau keengganan untuk tahu tentang kebenaran yang diperkirakan justru akan lebih tinggi nilainya dari apa yang sudah ada pada kita. Kalau saja kita membuka diri untuk menerima kebenaran itu maka mungkin kita kan memperoleh kebaikan dan energi yang kita perlukan, jadi halangan kita untuk menerima kebenaran adalah keangkuhan kita dari belenggu yang kita ciptakan sendiri. Belenggu iti ialah apa yang kita kenal sebagai “hawa nafsu” (keinginan untuk diri sendiri)
Seseorang disebut menuhankan keinginan dirinya sendiri jika dia memutlakan diri dan pandangan atau fikirannya sendiri. Biasanya orang seperti ini akan mudah terseret pada sikap-sikap tertutup dan fanatik yang amat cepat bereaksi negatif pada sesuatu yang datang dari luar. Inilah salah satu bentuk kungkungan hawa nafsu.
Hanya dengan melawan itu semua melalui proses pembebasan diri seseorang akan mampu menangkap kebenaran. Pembebasan diri yang diperoleh melalui kalimat syahadat la ilaha illa Allah itu dipandang dari sudut pandang effeknya kepada peningkatan harkat dan derajat kemanusiaan pribadi seseorang membuat seorang manusia merdeka sejati, akan menghilangkan dari dirinya sendiri setiap halangan melihat yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Setiap bentuk subjektivisme baik yang positive ataupun yang negatif, yaitu perasaan senang atau benci kepada sesuatu atau seseorang, tidak akan menjadikan pandangannya kabur dan kehilangan wawasan tentang yang sungguh-sungguh benar dan salah. Dan yang baik atau buruk.
Orang yang seperti itu mampu mengalahkan kekuatan tirani atau thagut baik yang ada dalam dirinya maupun yang ada diluar darinya, dan sanggup kembali kepada yang benar, tanpa perduli darimana datangnya.
Maka seseorang yang ber-tauhid yang dengan bebas menetukan sendiri pandangan dan jalan hidupnya menurut pertimbangan akal sehat yang dituntun oleh semangat ketauhidan, dan secara jujur tentang apa yang benar atau salah dan apa yang baik tau buruk, akan selalu tampil sebagai seseorang yang pemberani, percaya diri dan berkepribadian kuat serta memiliki sifat yang welas asih dan damai.
Dalam hal perdamaian, ketauhidan mengajarkan bahwasanya yang maha tinggi hanyalah Allah, kita sebagai manusia adalah sama, yang membedakan kita adalah taqwa kita dihadapan Allah yang maha satu.

Wa Allahu a’lam bishowab

0 comments:

Post a Comment