GADIS DIBALIK JENDELA

SEBUAH NOVEL BERSERI YANG AKAN TERBIT SETIAP BULAN.

REFLECTION

Thursday, 5 July 2012

BELAJAR DARI HANIF (BERMIMPI KEMUDIAN WUJUDKAN)



Mimpi,, bermimpilah sahabat, bermimpi besar dan kemudian realisasikan mimpimu, itulah kata terakhir seorang kawan sejatiku, sesaat seketika sebelum kami berpisah dia meninggalkanku disni, namun kata itu tetap terpatri di tiap detik hidupku, hingga kini. Pada awalnya aku tak mengerti apa maksudnya, pada awalnya aku selalu berfikir, hanya orang-orang yang tidak waraslah yang mau bermimpi, mana mungkin, seorang sepertiku mampu merealisasikan apa yang aku impikan, ah.. tangkalku atas apa yang dia katakan, dengan pandangan yang tertanam dalam alam bawah sadarku yang aku taman sendiri. Hari demi hari aku jalani, namun ada yang terasa kurang dalam hidupku, tapi pada saat itu aku tidak sadar apakah hal kurang itu. Aku makin gelisah, sehingga suatu hari, aku mengalami musibah dimana aku jatuh. karier, cinta, dan hidupku hancur. Aku tak tahu apa yang aku harus lakukan untuk bangkit, yang terlintas dalam fikiranku pada saat itu adalah Tuhan tidak adil, dan lebih baik aku mati saja.

Suatu saat ketika aku fikir sudah tidak ada hal yang aku miliki dalam hidupku maka aku putuskan malam itu untuk bunuh diri, ketika aku sudah siap untuk melompat dari jembatan yang dibawahnya merupakan sungai yang sangat dalam, mataku terusik oleh seorang anak yang membawa jualan asongan, kebetulan ketika itu hujan turun dengan sangat deras. Fikiranku mengusik inginku, dalam hatiku aku bertanya, kenapa anak itu masih mau berjualan padahal malam itu hujan turun dengan amat deras? Mengapa dirinnya begitu besemangat?? Dengan penuh penasaran, aku tunda bunuh diriku, lucu memang, tapi kelucuan itu tak menggoyahkan keingintahuan ku, akhirnya ku putuskan untuk mendekati anak itu, ku tanya siapa namanya, hanif, dengan singkat ia menjawab, tanpa basa basi, aku langsung bertanya, mengapa dia mau berdagang padahal saat itu hujan amat deras,? Jawabnya sangat sederhana, buat bayar sekolah jawabnya, namun otakku kembali bekerja dengan menayakan padanya kenapa kamu mau sekolah,? Jawab si hanif, aku bermimpi ingin menjadi dokter. Jawaban si hanif bagaikan petir di siang bolong, MIMPI?? MIMPI?? Mengapa harus mimpi?? Mengapa kata itu hadir lagi dalam hidupku? Ada apa dengan mimpi?? Pentingkah mimpi itu.?? Pertanyaan itu bagaikan kupu-kupu yang mengitar di fikiranku, aku pun kembali bertanya, mengapa kamu berusaha untuk mengejar mimpimu?? Apa mungkin kamu mampu menjadi seorang dokter?? Dia pun menajwab, “demi, mimpiku, apapun aku lakukan, betapaun beratnya, aku akan selalu bermimpi, dan mimpilah yang menajdikan aku bersemangat untuk selalu bekerja keras, dan karena mimpikulah aku selalu sabar. Jawabban itu mengingatakan ku pada sahabatku yang telah meninggalkan ku,

Dia adalah seorang yang menderita penyakit kanker, sebagian tubuhnya digerogoti oleh penyakit bahkan untuk berjalanpun ia sudah terpogoh-pogoh, namun ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang jurnalis, ia tetap dan tetap semangat meski seakan mimpinya itu dipupus oleh penyakit yang menderanya, dalam segala keterbatasan, dirinya tetap berjuang untuk hidup, dirinya tetap tersenyum dan dirinya pun tetap berusaha untuk merealisasikan mimpinya, meskipun pada akhirnya ia harus meninggalkan dunia ini. Aku baru sadar, apa maksud dari perkataannya, bahwasanya mimpi adalah pemberi semangat ketika kita terjatuh

Sahabat,

Belajar dari hanif, mimpi ibarat pecut yang memukul diri kita untuk bangun dari kejatuhan, mimpi ibarat air yang menghilangkan dahaga semangat, mimpi ibarat penuntun jalan, kemana kita harus melangkah.

Belajar dari hanif, bagaimana ia tetap tekun bekerja, dan bagaiman mimpinya berhasil membuatnya tabah dalam menghadapi berbagai cobaan yang menerpa. Sesekali kita menganggap remeh tentang mimpi, padahal dalam hidup, mimpi sangatlah penting, denganmimpi kita akan menajdi orang yang sabar, dengan impi kita akan menajdi orang akan tahan banting. Dan dengan mimpi kita memiliki tujuan hidup,

Sahabatku,

Bermimpilah, dan wujudkan mimpimu, bukanlah seberapa besar mimpimu, tetapi seberapa besar dirimu untuk mimpi-mimpimu, jadikan mimpimu sebagai bahan bakar semangatmu,

Yakinlah, tuhan akan memeluk mimpi-mimpi dan usahamu,

Wednesday, 4 July 2012

AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

1. Pengertian ayat ayat makkiyah dan madaniyah
Sebelum kita memahami tentang ayat-ayat makkiyah maupun madaniyah, sebaiknnya kita terlebih dahulu mengetahui tentang apa itu al qur’an?, dan apa yang dimaksud dengan ayat-ayat yang terdapat dalam al qur’an, hal ini bertujuan untuk menghindari kesalah-fahaman dalam memahami ayat ayat makkiyah,
al qur’an secara etimologis dapat diartikan membaca, hal ini dapat dilihat dari al qur’an itu sendiri yang berasal dari kata ( ) yang berarti membaca, kemudian menjadi isim ma’ful qur’anan yang berarti yang dibaca, sedangkan menurut istilah, para ulama memiliki Tiga pendapat.
Pertama para ulama tafsir mengartikan alqur’an sebagai : kalmullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad shalallhu alaihi wasalamsecara mutawatir ( berangsur-angsur ).
Kedua, para ulama ushulliyin mengartikan al qur’an sebagai : kallamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammmad shalallahu alaihi wassalam yang lafadz-lafadznya adalah bersifat mu’jizat (melemahkan), membacanya adalah bernilai ibadah, dinukilkan secara berangsur- angsur, dan dituliskan dalam mushaf yang diawali dengann surat al fatiha dan diakhiri dengan surat an nas .
Ketiga, menurut Prof. Dr. Quraisy Shihhab al qur’an yang secara harfiyah berarti “bacaan yang sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sangat tepat, karena tida bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca lima ribu tahun yang lalu dapat menandingi Al qur’an Al karim, bacaan yang sempurna lagi mulia. Tida bacaan senacam al Qur’an yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya atau yang tidak dapat menulis aksaranya. Bahkan dilafal oleh orang dewasa,anak, bahkan remaja
Pengertian ayat secara etimologis menurut sibwaihi adalah salah satu bagian dari berbagai jumlah yang terdapat di dalam surat al qur’an. Sedangkan menurut mawardi Muhammad di dalam kitabnya ulumutafsir ayat adalah kumpulan berbagai huruf yang ada dalam alqur’an dan merupakan bagian dari al qur’an tersebut. Menurut istilah, ayat dapat diartikan sebagai berikut :
Pertama, menurut kitab madhol lidirosatil qur’anil karim dikatakan bahwa ayat adalah bagian (juz’un) dari surat surat yang ada di dalam alqur’an yang memiliki awal dan akhir.
Kedua, menurut mawardi muhammad dalam kitab ulumuittafsir, ayat adalah kumpulan-kumpulan huruf dalam al Qur’an dan bagian-bagiannya.
Mengetahui ayat ayat makiyyah dan madaniyah suatu hal yang harus diperhatikan benar benar; untuk memperhatikan marhalah marhalah dakwah islamiyah dan mengetahui langkah-langkah yang berangsur ditempuh al qur’an dan dapat pula kita mengetahui persesuaian ayat-ayat dengan lingkungan mekkah dan madinah, serta pula dapat mengetahui uslub-uslub makkiyah dan madaniyah dalam menghadapi orang mukmin, musrykin dan ahli kitab.
Untuk mencapai pengetehuan yang luas tentang ayat ayat yang termasuk makkiyah dan madaniiyah, kita harus melihatnya dari berbagai perspektif, seperti:
1. Dari masa turunnya ( tartibuzzamaniy)
2. Dari tempat turunnya (tartibul makkany)
3. Dari topik yang dibicarakan( tahwil maudhu’i)
4. Dari orang orang yang dihadapi (ta’yin syakhsy)

A. Ayat-ayat makki ,
Jumhur ulama memiliki tiga pendapat tentang ayat ayat makki.
Pertama adalah ayat ayat yang turun sebelum rosululloh hijrah dari kota makkah ke kota madinah kendatipun turunnya ayat ayat itu selain di kota makkah, dan termasuk juga ayat ayat yang turun ketika rosululloh dalam perjalanan ketika hijrah.
Contoh : surat al fatihah,
1. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih maha penyayang
2. Segala puji bagi Tuhan semesta alam
3. Maha pengsih maha penyayang
4. Pemilik hari pembalasan
5. Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan
6. Tujukilah kami jalan yang lurus
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya: bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan( pula jalan)mereka yang sesat (Al-Fatiha 1-7 )
Penulis tidak menemukan informasi yang pasti kapan persisnya surah ini turun. Ada riwayat yang menyatakan bahwa surat ini turun sesudah al mudatsir ada pula yang berpendapat bahwasannya surah ini turun sesudah sural al muzzamil dan al qolam. Dan ada juga yang berpebdapat surat ini turun di madinah, adapula yang berpendapat surah ini turun dua kali- untuk mengisyaratkan tentang keagungannya-sekali turun di makkah sekali turun di madinah.
Betapa pun terjadi perbedaan-perbedaan itu namun kita dapat berkata bahwa surah ini makkiyah-turun sebelum nabi berhijrah ke Madinah, apalagi nama as sab’ul matsani telah disinggung al qur’an melalui firman Nya dalam Q.S Al hijr (87) ”sesungguhnya kami telah menganugrahkan kepadamu as sab’ul matsani dan al qur’an karim”. Disepakati oleh para ulama bahwa surat al hijr turun ketika nabi. S.A.W bermukim di makkah. Ditambah lagi bahwa shalat telah diwajibkan di madinah.

Kedua adalah ayat ayat yang turun di kota mekkah dan sekitarnya, seperti ayat ayat yang turun di mina, arrafat dan hudaibiyah. Tetapi mendefinisikan ayat ini dengan pengertian tersebut mengandung kelemahan, karena ada sebagian ayat ayat yang tidak ditiurunkan di kota ini
Contoh :
Allah memaafkanmu(muhammad) mengapa engkau memberi izin kepada mereka(untuk tidak berperang) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar(berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yangb berdusta.(at taubah;43)
Ayat ini merupakan ayat yang dinizulkan(diturunkan) di tabuk, dan ada pula ayat yang diturunkan di baitul maqdis ketika nabi muhhamad melakukan isra’
Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul kami yang telah kami utus sebelum engkau,”apakah kami mentukan tuhan-tuhan selain (Allah) yang maha pengsih untuk disembah( az-zukhruf 45)
Ketiga ayat ayat yang menjadi khittab bagi orang orang makkah, salah satu cirinya adalah terdapat kalimat seruan yaa ayyuhannas ( wahai manusia sekalian). Namun pengertian ini tidak selamanya memuaskan, seperti dalam kasus yang terdapat di dalam surat al baqoroh ayat 21 dan 168 yang artinya :
(wahai manusia sekalian, sembahlah tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa(al baqoroh 21)
hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah langkah syaitan; karena sesungguhnya setan adalah musuh yang sangat nyata bagimu(al baqoroh 168)
meskipun ayat ini menunjukan khittab yang ditujukan kepada orang orang makkah, tetapi surat ini termasuk kategori surat maddani.


B. Ayat ayat maddani
Selain terdapat tiga pengertian tentang ayat ayat makki, ayat ayat maddani pun menurut sebagian jumhur ulama terdapat tiga pengertian,
Perama, maddani adalah ayat ayat yang turun setelah hijrahnya nabi Muhammad shalallahu alaaihi wassalam dari kota makkah ke kota madinah, apabila turunnya selain di kota madinah, dan termasuk juga ayat ayat yang turun dalm perjalanan rosululloh setelah hijrahnya dari kota makkah ke kota madinnah, seperti surat al fathah yang turun di kota hudaibiyah.Contohnya :
a. Surat annissa ayat 58 yang artinya
“ sesungguhnya allah menyuruh kamu menympaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan ( menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil, sesungguhnya allah memberikanpengjaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya allah maha mendengar lagi maha melihat”( an nisa : 58 )
Kendatipun surat an nisa ayat 58 ini turun diturunkan di makkah, ayat ini termasuk ayat madaniyah, karena ayat ini diturunkan pada saat penaklukan kota makkah futuhat al makkah
b. Begitupula surat al maidah ayat 3 yang artinya :
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan KU cukupkan kepadamu nikmat-KU dan telah ku ridhoi islam sebagai agamamu ( al maidah ayat 3)

Ayat ini meskipun turun di kota makkah tetapi termasuk ayat ayat madaniyah, karena ayat ini diturunkan setelah rosulullah hijrah yaitu pada saat haji wada’

Kedua maddani adalah ayat ayat yang turrun di kota madinah dan sekitarnya, seperti turunnya ayat ayat alqur’an di badar dan jabal uhud, terdapat kelemahan pada pendefinisian ayat ayat madani dengan terminology yang disebutkan, karena ada sebagian ayat ayat yang turun selain di kota madinah, makkah dan sekitarnya seperti surat at taubah ayat 47 yang artinya :
Kalau kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pasti mereka mengikutimu, tetapi tempat yang ditiju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) allah:” jikalau kami sanggup,tentulah kami berangakat bersama-samamu.” Mereka membiasakan diri mereka sendiri dan allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka orang-orang yang berdusta.( at taubah : 42 )
Surat at taubah ini diturunkan di tabuk,
Ketiga adalah ayat ayat yang menjadi khitab bagi orang orang madinah. Pendefinisian dari ayat maddani seperti ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap ayat yang menyangkut kata “yaa ayyuhalazina amanu” (wahai orang orang yang beriman) adalah merupakan ayat ayat madaniyah, namun asumsi ini tidak selamanya benar karena bila dilihat dari kasus surat al mumtahanah, bila ditilik dari segi turunya, ayat ini termasuk madaniyah, karena diturunkan setelah rosulullah hijrah akan tetapi khitab yangt terdapat pada ayat ini lebih menunjukkan pada orang orang makkah, sebagai jawaban atas ambiguitas yang terjadi, maka diklasifikasikan ayat ayat yang seperti ini kedalam maa nuzila bil madinah wa hukmuhu makki ( ayat ayat yang diturunkan di madinah, tetapi hukum hukumnya adalah makki
Contoh :
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (al baqoroh :183)
Wahai orang-orang yang beriman, mewarisi perempuan dengan dengan jalan paksa, janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecual;i apabila mereka melakukan perbuatan yang keji nyata.dan bergaulah dengan mereka menurut cara yang patut, jika kamu tidak menyukai mereka,(maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah telah menjadikkan kebaikan yang banyak padanya.(an-nisa 19)
2. Karakter semantik ayat ayat makkiyah daan madaniyah
Karakter menurut Cambridge school dictionary “ the combination of qualities and personalities that makes one person or thing different from others, dapat diartikan secara sederhana bahwa karakter adalah kombinasi dari kualitas dan personal yang membuat seseorang atau sesuatu berbeda dengan yang lain. Kata lain dari karakter adalah ciri ciri .
Semantik menurut Cambridge school dictionary adalah “ connected to the meaning of language” dapat diartikan semantik beerarti gaya bahasa atau susunan bahasa,
a. Karakteristik semantik ayat ayat makki
1. Semua ayat ayat atau surat yang mengandung ayat ayat sajadah adalah makkiyah.
Surat-surat dan ayat-ayat sajadah adalah apabila ayat-ayat tersebut dibacakan maka sunnah hukumnya untuk melakukan sujud tilawah, yang termasuk ayat-ayat sajadah adalah :
a. Al a’raf ayat 206
b. Ar ra’d 15
c. An nahl : 50
d. Al isra’ :109
e. Maryam : 58
f. Al hajj : 18
g. Al furqon : 60
h. An naml :26
i. As sajadah : 15
j. As shaad: 24
k. Fushillat :27
l. An najm : 62
m. Al insyiqoq :21
n. Al alaq : 19

2. Semua ayat atau surat yang terdapat didalamnya kata “kalla” adalah ayat atau surat makki
3. ayat ayat makki diawali dengan kata wahai umat manusia, kecuali surat jinn
4. semua surat atau ayat yang mengandung kisah kisah para nabi dan umat umat terdahulu adalah makki
5. semua ayat atau surat yang mengandung kisah perdebatan antara adam dengan iblis adalah makki kecuali surat albaqoroh
6. surat suratnya pendek pendek.
7. Banyak terdapat lafadz sumpah

b. karakteristik semantik ayat ayat maddani
1. segala surat yang berisi tentang kewajiban kewajiban dan had adalah surat maddani
2. semua surat yang dibuka dengan huruf huruf maqtuah atau tahajji atau huruf potongan adalah maddani kecuali surat dzahrowain( al baqoroh dan ali imron).
3. Suratnya panjang panjang.
4. Menjelaskan keterangan keterangan yang menunjjuk kepada hakikat keagamaan

3. Perbedaan isu yang terdapat dalam ayat ayat makki dan maddani
Isu menurut Cambridge school dictionary “an important problem or subject that people are discussing. Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa isu adalah sesuatu permasalahan dan subjek penting yang sedang dibahas oleh kebanyakan.
a. Isu isu yang dibahas dalam ayat ayat makki
1. Ajakan kepada tauhid dan ibadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala
2. Penetapan risalah rosulullah Muhammad shalallahu alaihi wasalam
3. Penetapan dosa dan pahala
4. Peringatan tentang hari kiamat
5. Peringatan tentang syurga dan siksanya
6. Peringatan tentang syurga dan nikmatnya
7. Perdebatan kaum musrikin tentang akal dan ayat kauniyah
8. Penetapan fondasi umum bagi pembentukan hukum syara
9. Berisikan celaan-celaan bagi tindak kriminalitas yang dilakukan kaum musrikin, salah satunya yakni mengkonsumsi harta anak yatim secara dzalim serta uraian uraian tentang hak.
10. Penetapan dasar dasar akhlak
11. Peringatan tentang kisah kisah para nabi dan umat umat sebelumnya
12. Terdapat banyak kata kata sumpah
b. Isu isu tematik yang terdapat dalam ayat-ayat maddaniyah
1. Menjelaskan tentang permalahan ibadah
2. Menjelaskan tentang hukum hukum syara’ seperti muamallah, huddud, bangunan rumah tangga, warisan, keutamaan jihad, kehidupan social, aturan-aturan pemerintah dalam menangani perdamaian dan peperanagan, serta persoalan-persoalan pembentukan syara’
3. Mengkhitab para ahli kitab yahudi dan nasrani, dan mengjak merekamasuk islam.
4. Menguraikan perbuatan meraka yang yang telah menyimpang dari kitab-kitab allah.
5. Mengungkap langkah-langkah orang orang munafik.
6. Penjelasan tentang hukum sudah jelas.
7. Surat-surat dan sebagian ayat-ayatnya panjang.
4. Kegunaan memahami ayat ayat makki dan maddani
an naisaburi, dalam kiatbnya at tanbih ala fadhil ulumil qur’an. Memandang subyek makkiyah dan madaniyah sebagai ilmu qur’an yang paling utama. Sementara itu al qatthan mecoba lebih lnjut lagi dalam mendeskripsikan urgensi dalam mengetahui ayat ayat makkiyah maupun madaniyah.
1. Menbantu dalam menafsirkan ayat ayat quran.
Pengetahuan tentang peristiwa peristiwa di seputar turunya alquran tentu sangat membantu dalam memahami dan menfsirakan ayat-ayat al quran.Kendatipun ada teori yang mengatakan bahwa yang ahrus menjadi patokan adalah keumuman redaksi ayat-ayat alqur’an bukan kehususan sababiayan. Dengan menetahui kronologi aalquran pula, seorang mufassir dapat memecahkan masalah kontardiksi dalam dua ayat yang berbeda, yaitu denag cara menetapkan konsep nasikh mansukh yang hanya bisa diketahui melalui kronologi al qur’an.
2. Pedoman bagi langkah langkah dakwah.
Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan ungkapan yang relevan.Ungkapan ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat ayat makkiyah maupun madaniyah memberikan informasi metodologi bagi cara cara menetapkan qur’an yang relevan dengan oaring ayang diserunya. Oleh karena itu, dakwah islamberhsil mengettuk hati dan menyembuhkan.penyakit orang orang yang diserunya. Disamping itu, setiap langkah dakwah memiliki objek kajian dan metode metode tertentu, seiring dengan perbedaan sosio-kultural manusia.Periodisasi makkiyah dan madaniyah telah memberikan contoh informasi tentang itu.

3. Memberikan informasi tentang sirah kenabian
Penahapan turunya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah nabi, baik di mekkah maupun di madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu pertama sampai diturunkannya wahyu terakhir. Al qur’an adalah rujukanotentik bagi perjalan dakwah nabi itu. Informasinya tidak dapat diragukan lagi.
4. Dapat mengetahui perbedaan ayat yang mansukh hukumnya, dan ayat yang nasikh. Misalnya hukum ayat-ayat maddaniyah dapat menghapus hukum-hukum ayat maddaniyah.

















DAFTAR PUSTAKA

Assydiqie, T.M Hasbi, ilmu- ilmu al qur’an, pustaka rizki putra, semarang:2002
Qattan, khalil mana, studi ilmu ilmu al qur’an. Litera antarnusa dan pustaka islamiyah. Jakarta: 2000
Shihhab, M. Quraish, wawasan al qur’an,mizan, Jakarta:2003
Supiana. Karman. M, Ulumul Qur’an dan pengenalan metode tafsir, pustaka islamika,Jakarta:2002

Cambridge school dictionary, Cambridge university press, 2008

Al Qur’an dan terjemahannya,C.V penerbit Diponegoro, Bandung:2008

AKU BUKAN muslim* ( baca : muslim yang kecil)



Suatu ketika, seorang pernah bertanya padaku, apakah sabar itu? Mengapa aku sangat kesulitan dalam hidup ini? mengapa banyak sekali orang yang mengaku islam tapi ia berbuat keji bahkan sangat cinta terhadap kekerasan? Bagaimanakah seharusnya seorang muslim yang sesungguhnya itu?. Mungkin pertanyaan seperti ini tidaklah merupakan pertanyaan yang begitu penting, tetapi pertanyaan ini adalah pertanyaan yang mendasar bahkan pertanyaan ini mungkin saja menjadi cambuk bagi seluruh umat muslim di dunia.
Begitu banyak fenomena yang menunjukan bahwa manusia terutama islam terutama sedang menglami degradasi yang sangat signifikan. Terutama degradasi akhlaq, kekerasan yang sangat marak, kekerasan yang menggunakan panji-panji agama sebagai legitimasi kegiatan mereka, korupsi terjadi disana sini, banyak orang lebih menggunakan kekerasan ketimbang musyawarah dalam menyelesaikan masalah. Bahkan sebagian umat islampun lebih mementingkan hal-hal yang duniawi dan lebih memilih jalan yang diharamkan oleh Allah dalam menjalankan hajat duniawinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ada yang salah dengan umat islam pada saat ini.?? Apakah kita sebagai umat muslim yang berhati kecil? Yang memiliki mental yang kerdil??
Mari bersama kita renungkan dua hadits rasulullah s.a.w berikut,
Muhammad bin Harits Al Hilalli meriwayatkan bahwa malaikat jibril turun mendatangi rasulullah S.A.W dan berkata, Hai muhammad, sesungguhnya Aku datang kepadamu dengan membawakan ajaran Allah tentang akhlaq mulia untuk di dunia dan di akhirat: “jadilah engkau pemaaf dan dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpaling dari orang-orang yang bodoh. (al Hadits)
Nabi muhammad S.A.W pernah bersabda :
Sesungguhnya Allah mencintai seorang yang sabar lagi pemalu dan memebenci orang yang suka berbicara keji dan berbuat hina.(al Hadits)
Dari hadits pertama yang dikemukakan diatas secara jelas Rasulullah diajarkan oleh malaikat jibril A.S tentang akhlaq mulia yang merupakan akhlaq yang tidak hanya untuk kemaslahatan dunia tetapi juga untuk kemaslahatan akhirat juga, pertanyaan yang muncul berikutnya adalah bagaimanakah akhlaqul karimah itu?. Jawabannya adalah sebagaimana yang diperinci oleh malaikat jibril tentang akhlaqul karimah itu dengan sangat rinci yakni menjadi seorang yang pemaaf, menyeru pada amar makruf, mencegah kepada hal yang mungkar, serta berpaling dari orang-orang yang bodoh.
Hadits yang kedua secara gamblang menjelaskan apa saja kriteria seorang muslim yang dicintai oleh Allah, orang-orang yang dicintai oleh Allah adalah seorang yang sabar, pemalu, menjauhi orang-orang yang suka berbicara keji dan berbuat hina.
Kedua hadits diatas menyiratkan tentang syarat untuk menjadi muslim yanng berhati besar. Seorang muslim yang memiliki hati dan toleransi serta kuat dalam menghadapi berbagai cobaan berikut ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai seorang muslim yang berhati besar berdasarkan kedua hadits rasulullah diatas.
1. Pemaaf
Seorang muslim yang berhati besar memiliki ciri sebagai seorang yang pemaaf. Apapun kesalahan orang yang pernah dilakukan maka sebaiknya sebagai muslim yang berhati besar, ia harus bisa memberikan maaf. Hal inipun telah dicontohkan oleh rasulullah ketika rasulullah berhijrah ke thaif untuk mencari suaka.Ketika rasulullah sampai di thaif bukanlah sambutan yang baik yang didapat, melainkan cercaan bahkan rasulullah dilempari batu dan kotoran manusia kemudian jibril A.S datang kepada rasulullah kemudian mengatakan bahwa wahai Muhammad apabila engkau kehendaki maka niscahya akan ku balikkan sebuah gunung dan akan ku timpahkan kepada kaum yang menghardikmu, Tetapi karena rasulullah merupakan prototipe seorang muslim yang berhati besar maka dengan sangat bijak rasulullah melarang jibril A.S melakukan hal tersebut bahkan rasulullah memohonkan ampunan kepada allah atas perbuatan kaum yang berada di kota thaif tersebut. seorang muslim yang berhati besar hendaknya mengingat dua hal dan melupakan dua hal. Dua hal yang harus di ingat adalah kebaikan orang lain bagi kita dan kejahatan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dan dua hal yang seharusnya dilupakan seorang muslim adalah kebaikan kita kepada orang lain dan kesalahan orang lain kepada kita. Maka hanyalah seorang muslim yang berhati kecil yang tidak pernah memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita.
2. Menyeru kepada kebaikan dan melarang kepada perbuatan yang buruk
Rasulullah sebagai prototipe seorang muslim yang berhati besar selalu menyeru kepada perbuatan yang baik. Dan secara tegas melarang hal-hal yang membawa kepada keburukan baik bagi diri sendiri maupun terhadap orang banyak. Untuk mengajak orang untuk berbuat kebajikan dan melarang kepada perbuatan yang buruk tentunya bukan perkara yang mudah. Hal ini pun pernah dirasakan oleh rasulullah S.A.W ketika menyeru kepada orang-orang quraisy untuk meperbaiki akhlaq dan menjauhi perbuatan perbuatan buruk.
Dalam menyeru orang kepada perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk, seorang muslim yang berhati besar hendaknya menggunakan cara-cara yang penuh dengan kasih sayang tidak dengan cara-cara yang berbau kekerasan dan penghakiman secara sepihak kepada orang-orng yang diserunya. Bukankah islam adalah agama kasih sayang dan agama yang Rahmatan lil Alamin?, maka sampaikanlah pesan kebaiakan dengan cara-cara yang mengandung kasih sayang.

3. Berpaling dari orang-orang yang bodoh.
Maksud dari berpaling dari orang-orang yang bodoh bukan berarti kita dengan sombongnya menjauhi orang-orang yang bodoh. Bodoh disini memiliki pengertian adalah orang-orang yang tidak tahu tetapi dengan sombong ia tidak mau belajar dan secar sombong ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui. Hal ini patut dilakukan, karena ketika kita berbicara atau berdiskusi dengan orang yang bodoh yang sombong maka yang kita dapat hanyalah perkara-perkara yang tidak ada manfaatnya sama sekali.
4. Sabar
Sabar dapat diartiakan sebagai menahan. Mengapa demikian, Karena seorang muslim yang berhati besar tentunya akan menahan diri dari mengeluh ketika dirinya diberikan cobaan oleh Allah S.W.T dan berprasangaka baik kepada Allah terhdap cobaan yang diberikan. Dan juga menahan diri dari amarah yang menguasai diri ketika ia sedang dalam posisi marah batasan kesabaran adalah penguasaan diri ketika marah. Orang yang menanam pohon kesabaran niscahya akan memetik buah keselamatan. Ali bin abi thalib R.A berkata
“ pertama kali yang akan diterima oleh orang sabar adalah pertolonngan manusia sebagai balasan atas kesabarannya.
5. Pemalu
Sebagai seorang muslim yang berhati besar, rasa malu merupakan perisai yang kuat yang akan melindungi dirinya dari perbuatan yang buruk. Seorang muslim yang berhati besar tentunya akan menjadikan malu sebagai pakaiannya karena dengan rasa malu lah seseorang itu bisa dikatakan mulia. malu terbagi atas tiga perkara. Pertama adalah malu kepada Allah, bagaimana cara kita malu kepada Allah?. Jawabannya adalah dengan menjalankan semua perintah allah dan menjauhi semua yang dilarang oleh allah. Kedua adalah malu terhadap sesama manusia, malu terhadap sesama manusia maksudnya adalah malu ketika kita berbuat keburukan dan malu ketika kita telah berbuat salah terhadap orang lain. Ketiga adalah malu terhadap diri sendiri. Maksudnya adalah menjaga diri dari kesombongan dan riya terhadap manusia.
Dari uraian diatas penulis mengajak kepada pembaca untuk menjadi seorang muslim yang berhati besar dan berusaha untuk menjadi seorang muslim yang memiliki sifat-sifat seperti apa yang telah diisyaratakan oleh rasulullah S.A.W. dan penulis juga mengajak untuk meenyeru pada diri kita bahwasanya KITA BUKANLAH muslim(yang kecil hatinya).

Tauhid menurut perspektif cak nur

Tauhid menurut perspektif cak nur

Perkataan tauhid makna harfiyahnya adalah “menyatukan” atau mengesakan. Kata tauhid dimaksudkan sebagai faham “me maha-esa-kan tuhan” istilah tauhid pertama kali dipakai oleh mutakalimin atau pada zaman ilmu kalam baru berkembang . Istilah tauhid secara tepat menunjukkan isi pokok ajaran kitab suci, yakni ajaran tentang mengesakan tuhan. Kata tauhid itupun secara tepat menggambarkan inti ajaran semua nabi dan rasul tuhan.
Pada dasarnya kata tauhid itu pun tidak termaktub dalam al Qur’an, tetapi bukan berarti kata tersebut hampa dalam al qur’an, karena yang ada di dalam al qur’an adalah kata yang merupakan turunan dari tauhid itu sendiri seperti kata (ahad dan wahid ) dan kata ahad dan wahid itu pun merupakan representasi dari kata tauhid itu sendiri yakni “ tentang ajaran untuk meng-esa-kan tuhan.”
Secara etimologis tauhid berasal dari akar kata “wahhada-yuahhidu” yang artinya menjadikan sesuatu satu atau dengan kata lain dapat dialihbahasakan menjadi “meng-esa-kan.
Dalam bukunya yang berjudul “LENTERA AL QUR’AN” Prof. Quraish sihhab mengungkapkan “ jika anda ingin melukiskan jaran islam dalam satu kata maka kata itu adalah tauhid. Demikian kesimpulan para pakar. Tauhid ( keesaan Tuhan) merupakan suatu prinsip lengkap yang menembus seluruh dimensi serta menatur seluruh aktivitas makhluk. Dari tauhid lahir berbagai ajaran kesatuan yang mengitari prinsip tersebut, misalnya kesatuan alam raya, agama, ilmu, kebenaran, umat, peribadatan manusia dan lain-lain. Kemudian dari masing-masing itu lahir pula tuntunan dan semua beredar pada tauhid.
Dalam konsep Islam yang dikembangkan oleh Nurcholis madjid dikatakan bahwa islam secara generik berarti sikap berserah diri terhadap Tuhan. Sikap ini secara inheren mengandung beberapa konsekuensi, pertama, konsekunsi dalam bentuk pengakuan yang tulus bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber otoritas yang mutlak, penngakuan ini merupakan kelanjutan logis bagi hakikat konsep ketuhanan. Yaitu bahwa Tuhan adalah wujud yang MUTLAK. Yang menjadi sumber semua wujud yang lain.
Karena ke-maha-esa-an Tuhan dan kemutlakan-Nya, wujud Tuhan adalah wujud kepastian. Justru Tuhanlah satu-satunya wujud yang pasti. Semua selain tuhan adalah bentuk yang tak pasti, nisbi . Termasuk manusia sendiri, betapapun tingginya kedudukan manusia sebagai puncak ciptaan tuhan. Maka sikap memutlakkan nilai manusia baik yang dilakukan seseorang kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Adalah bertentangan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa atau tauhid.
Tauhid dan masalah percaya kepada Allah.
Dalam pandangan keagamaan umumnya umat muslim di indonesia terdapat kesan amat kuat bertauhid adalah hanya berarti beriman atau percaya kepada Allah. Namun apabila kita mengkaji lebih dalam dan teliti kitab suci al qur’an. Ternyata bertauhid tidaklah sepenuhnya demikian. Contohnya orang-orang musrik makkah yang memusuhi Rasulullah dahulu itu adalah kaum yang benar-benar percaya kepada Allah.
Dan sungguh jika kau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “siapakah yang menciptakan langit dan bumi” pastilah mereka akan menjawab Allah!. Katakan: apakah kamu renungkan sesuatu (berhala) yang kamu seru (sembah) selain Allah itu? Jika Allah menghendaki bahaya atasku, Apakah mereka mampu atas melepaskan bahaya itu? Dan jika Dia(Allah) menghendaki rahmat untukku, apakah mereka(berhala-berhala) mampu menahan Rahmat-Nya? Katakan Muhammad : cukup bagiku Allah saja, kepada-Nya lah bertawakal mereka yang mau bertawakal. (q.s Az-Zumar ; 38)
Firman yang merupakan penuturan kaum kafir itu dengan jelas membawa kita kepada kesimpulan bahwa tauhid tidaklah cukup dan tidak hanya berarti percaya kepada Allah saja. Tetapi pula mencakup pengertian yang benar tentang siap Allah yang kita percayai itu dan bagaimana Kita bersikap kepada-Nya serta kepada obyek-obyek selain Dia
Maka orang arab pra Islam itu sudah percaya kepada “Allah” mereka pun percaya bahwa Allah lah yang menciptakan Alam semesta. Tetapi meski begitu apakah mereka sudah dikatakan beriman? Atau bertauhid?. Mereka tidak dikatakan sebagai al mu’minun (atau orang beriman) dan tidak pula dikatakan al muwahidun( orang-orang yang bertauhid). Sebaliknya mereka disebut kaum yang menyekutukan Allah (musrikun) yaitu kaum yang memiliki pemahaman bahwa Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. Padahal dengan sadar mereka mengakui bahwasanya sekutu dalam keilahian Tuhan itu juga merupakan ciptaan tuhan belaka bukan tuhan itu sendiri.
Lebih jauh lagi, pengertian orang arab Pra Islam itu tentang Allah masih penuh dengan Mitologi misalnya di bangsa arab ada kepercayaan terhadap berhala-berhala dan seperti mitos binatang-binatang seperti misalnnya burung gharnaq(gagak). Yang dipercaya mampu memberi pertolongan.
Kesemua itu menjadi latar belakang sosial-budaya Jazirah arabia bagi tugas suci( Risalah, Mission sacree) Nabi Muhammad. S.A.W untuk menyampaikan seruan kepada umat manusia agar membebaskan diri dari berbagai kepercayaan palsu itu dan berpegang kepada kepercayaan yang benar.
TAUHID DAN IMAN YANG MURNI
Jadi percaya kepada Allah tidak sendirinya berarti tauhid sebab percaya kepada allah masih saja mengandung kemungkinan percaya kepada yang lain-lain sebagai peserta Allah dalam Keilahian. Dan ini merupakan problematika manusia. Bahwa manusia pada umumnya memang percaya kepada Allah, namun kepercayaan itu tidaklah murni sebagaimana digambarkan dalam surat yusuf ayat 103-106
103. dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya.
104. dan engkau tidak meminta imbalan apapun kepada mereka ( terhadap seruan Mu ini) sebab seruan adalah pengajaran bagi seluruh alam.
105. dan betapa banyak tanda-tanda(kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui namun mereka berpaling darinya.
106. dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah bahkan mereka mempersekutukan-Nya.
Diantara manusia memang ada yang mengaku dirinya sebagai atheis. Namun atheis merupakan minoritas kecil dalam masyarakat manapu. Karena atheis bukan merupakan problematika utama umat manusia. Sebaliknya problematika umat manusia adalah politheisme atau syirik. Yaitu fahan yang sekalipun berpusat kepada Allah yang maha Esa, namun terbuka peluang bagi adanya kepercayaan kepada wujud-wujud lain kepada yang bersifat ketuhanan, meskipun lebih rendah daripada Allah itu sendiri. Maka sangatlah wajar dalam al Qur’an jarang sekali yang membahas tentang atheis, sebaliknya pembahasanya lebih banyak tentang politheisme atau syirik.
Karena masalah pokok umat manusia adalah politheisme, maka program pokok umat manusia adalah membebaskan manusia dari belenggu paham tuhan banyak itu dengan mencanangkan dasar kepercayaan yang diungkap dalam kalimat “an nafy wal isbat ” atau negasi konfirmasi yakni “ Tiada tuhan selain Allah.
Dengan negasi-konfirmasi(Tiada Tuhan selain Allah) itu dimulai proses pembebasan. Yaitu pembebasan dari belenggu kepercayaan yang palsu. Tapi demi kesempurnaan pembebasan itu, manusia harus mempunyai kepercayaan kepada sesuatu yang benar, sebab hidup tanpa kepercayaan samasekali adalah hal yang mustahil.
Kalimat an nafy wal isbat atau dalam istilah populernya adalah kalimat syahadat diibaratkan dalam al Qur’an sebagai;
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kaimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya yang kuat dan cabangnya(menjulang) ke langit. ( q.s Ibrahim: 24)
Dengan syahadat seorang muslim paling tidak mengakui bahwasanya tiada hal lain yang lebih besar, lebih sempurna dari Allah. Dengan syahadat manusia mengakui kelemahanya dihadapan Allah,
Kalimat syahadat diawali dengan persaksian tentang pengingkaran la ilaha (tiada tuhan), kemudian disusul dengan penetapan ilallah (kecuali Allah) pencari kebenaran akan menemui kebenaran itu bila ia berusaha menyingkirkan terlebih dahulu segala macam ide, teori, dan data yang tidak benar dari benaknya, persis apa yang dilakukan seseorang ketika ia mengucap kalimat an nafy wal isbat dengan segala kesadarannya.
Dengan kalimat syahadat kita sesorang telah memurnikan keimanannya, bahwa tiada yang Paling sempurna “kecuali Allah, tiada yang lebih tinggi kecuali Allah, Tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Kebenaran yang sejati adalah milik Allah.
Tauhid dan Pembebasan diri.
huston smith seorang ahli filsafat modern, dalam pengamatannya atas fenomena islam. Islam berarti sikap pasrah atau tunduk kepada Tuhan justru menjadi pangkal kebebasan kaum muslim dan sumber energi mereka yang hebat. Sebagaimana terbukti dari ledakan politik luar oleh orang arab muslim pada abad ke-7.
Oleh karena itu untuk manusia pada umumnya dan mereka yang telah memiliki kepercayaan kepada Tuhan, proses pembebasan itu tidak lain ialah pemurnian kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa.. pertama, melepaskan diri dari kepercayaan kepada yang palsu, kedua dengan pemusatan kepercayaan hanya kepada yang benar.
Huston Smith menyinggung bahwa ke engganan umat manusia untuk menerima kebenaran antara lain karena sikap menutup diri yang timbul dari reflek agnostik, atau keengganan untuk tahu tentang kebenaran yang diperkirakan justru akan lebih tinggi nilainya dari apa yang sudah ada pada kita. Kalau saja kita membuka diri untuk menerima kebenaran itu maka mungkin kita kan memperoleh kebaikan dan energi yang kita perlukan, jadi halangan kita untuk menerima kebenaran adalah keangkuhan kita dari belenggu yang kita ciptakan sendiri. Belenggu iti ialah apa yang kita kenal sebagai “hawa nafsu” (keinginan untuk diri sendiri)
Seseorang disebut menuhankan keinginan dirinya sendiri jika dia memutlakan diri dan pandangan atau fikirannya sendiri. Biasanya orang seperti ini akan mudah terseret pada sikap-sikap tertutup dan fanatik yang amat cepat bereaksi negatif pada sesuatu yang datang dari luar. Inilah salah satu bentuk kungkungan hawa nafsu.
Hanya dengan melawan itu semua melalui proses pembebasan diri seseorang akan mampu menangkap kebenaran. Pembebasan diri yang diperoleh melalui kalimat syahadat la ilaha illa Allah itu dipandang dari sudut pandang effeknya kepada peningkatan harkat dan derajat kemanusiaan pribadi seseorang membuat seorang manusia merdeka sejati, akan menghilangkan dari dirinya sendiri setiap halangan melihat yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Setiap bentuk subjektivisme baik yang positive ataupun yang negatif, yaitu perasaan senang atau benci kepada sesuatu atau seseorang, tidak akan menjadikan pandangannya kabur dan kehilangan wawasan tentang yang sungguh-sungguh benar dan salah. Dan yang baik atau buruk.
Orang yang seperti itu mampu mengalahkan kekuatan tirani atau thagut baik yang ada dalam dirinya maupun yang ada diluar darinya, dan sanggup kembali kepada yang benar, tanpa perduli darimana datangnya.
Maka seseorang yang ber-tauhid yang dengan bebas menetukan sendiri pandangan dan jalan hidupnya menurut pertimbangan akal sehat yang dituntun oleh semangat ketauhidan, dan secara jujur tentang apa yang benar atau salah dan apa yang baik tau buruk, akan selalu tampil sebagai seseorang yang pemberani, percaya diri dan berkepribadian kuat serta memiliki sifat yang welas asih dan damai.
Dalam hal perdamaian, ketauhidan mengajarkan bahwasanya yang maha tinggi hanyalah Allah, kita sebagai manusia adalah sama, yang membedakan kita adalah taqwa kita dihadapan Allah yang maha satu.

Wa Allahu a’lam bishowab

THE ETHICS OF LEADERSHIP (ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM MENYONGSONG INDONESIA YANG OPTIMIS)

THE ETHICS OF LEADERSHIP
(ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM MENYONGSONG INDONESIA YANG OPTIMIS)

Saat ini Indonesia sedang dilanda badai krisis. Tidak lagi berupa krisis ekonomi, melainkan krisis kepemimpinan. Indonesia sangat kekurangan sosok pemimpin yang menjadi teladan bagi bangsa. Krisis kepemimpinan itu terletak pada, krisis kredibilitas, krisis kepercayaan, krisis kekuatan untuk memimpin dan terlebih krisis keteladanan. Kepemimpinan terutama di Indonesia kini sudah berada di posisi kritis. Dimana kepemimpinan Indonesia kini dipertanyakan kredibilitas dan kapabilitasnya dalam memimpin. Masyarakat kini seakan sudah kecewa dengan kepemimpinan yang ada saat ini. Kekecewaan itu banyak diungkapkan dalam berbagai aksi dan berbagai ekspresi. Sejenak kita menilik kejadian “bakar diri” yang dilakukan seorang mahasiswa di depan istana negara, Sondang, yang tentunya masih lekat dalam ingatan kita. Menurut berbagai penuturan, hal ini dilakukan Sondang karena kekecewaannya terhadap pemimpin bangsa ini sudah memuncak. Dan yang masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu lalu di berbagai sudut kota di Jakarta terdapat spanduk yang bertuliskan “Negeri Auto-pilot” yang menurut Hamdi, Guru Besar Psikologi Politik Univesitas Indonesia, bunyi spanduk itu menunjukkan kegusaran masyarakat terhadap rezim saat ini. Masyarakat beranggapan bahwa tanpa Pemerintah pun negeri ini bisa terus berjalan. Ekonomi terus tumbuh dan rakyat masih bisa makan. “rezim ini dinilai miskin prestasi. Seolah-olah pemerintah tidur dan kehidupan berjalan seperti biasa. Inilah sinyal yang coba dikirim lewat sinyal spanduk itu (Dikutip dari www.mediaindonesia.com). Dan masih banyak lagi ekspresi kekecewaan masyarakat Indonesia terhadap kepemimpinan yang ada.
Berbicara tentang kepemimpinan, tentu kita juga akan membicarakan tentang pemimpin itu sendiri. Sebelum melangkah lebih jauh tentang kepemimpinan, sejenak kita menilik berbagai definisi kepemimpinan. Dalam buku An Integrative Theory of Leadership, karangan Chemers M. Disebutkan bahwa, leadership has been described as the process of social influence in which one person can enlist the aid and support of others in the accomplishment of a common task.
Menurut Young, kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, yang memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Dan dalam buku The Dancing Leader, Rocky Gerung mengungkapkan bahwa tanggung jawab adalah inti dari kepemimpinan.
Dari ketiga definisi tersebut dapat ditarik suatu benang merah bahwasanya kepemimpinan adalah suatu proses bagaimana seseorang mempengaruhi masyarakat untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan yang diinginkan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Krisis kepemimpinan yang ada sekarang haruslah segera diatasi. Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang peka, kredibel, berintegritas, memiliki kemampuan memengaruhi, yang paling utama adalah menghayati nilai-nilai pancasila yang kesemuanya terangkum dalam the ethic of leadership.
Seorang pemimpin haruslah memiliki etika kepemimpinan yang baik, salah satu ethic of ledership adalah seorang pemimpin harus peka terhadap permasalahan-permasalahan bangsa. Kepekaan ini ditujukkan dengan pembuatan kebijakan yang menyelesaikan permasalahan bangsa, bukan menambah masalah baru. Kepekaan juga ditujukkan dengan tindakan, apabila ada suatu permasalahan seorang pemimpin haruslah memberikan solusi tepat. Contohnya pemerintah harus peka terhadap kemiskinan yang menyebabkan kelaparan yang terjadi di Negeri yang ia pimpin, dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mengatasi masalah, seperti pemimpin turun tangan dengan membuat kebijakan pemberian Insentif dan pelatihan-pelatihan bagi rakyatnya. insentif berupa pemberian bantuan makanan dan kebutuhan rakyat yang kelaparan itu, tentu insentif saja tidak cukup. Selain itu kebijakan yang harus dibuat adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan dalam mengasah kemampuan rakyat yang miskin sehingga tidak selamanya rakyat miskin bergantung pada pemerintah.
Etika kepemimpinan yang lainnya adalah kredibel. Kredibilitas diartikan sebagai kepercayaan. Pemimpin harus dapat dipercaya. Kepercayaan itu akan hadir apabila seorang pemimpin tersebut menjalankan kepemimpinannya dengan amanah, jujur, dan adil dan bertanggung jawab dalam membuat kebijakan maupun regulasi. Apabila pemimpin sudah memenuhi etika ini, maka secara otomatis rakyat akan mentaati kebijakan yang sudah dibuat.
Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya haruslah memiliki integritas. Integritas diartikan sebagai kesesuaian apa yang diungkapkan dan apa yang diperbuat. Seorang pemimpin tidak hanya memberikan opini-opini atau janji-janji yang tidak sesuai dengan realita yang ada, pemimpin yang memliki integritas akan banyak berbuat daripada sekedar mewacanakan sesuatu atau hanya membuat janji-janji semu belaka.
Etika kepemimpinan lainnya yakni, seorang pemimpin haruslah ko-operatif. Paradigma kuno mengatakan bahwa leadership adalah suatu hierarkis kekuasaan dari atas ke bawah, paradigma kuno ini sudah tidak relevan dengan keadaan yang ada sekarang, meminjam istilah Rocky Gerung dalam buku the dancing leader. Leadership yang baru diartikan sebagai partnership yang menganggap kepemimpian buka lagi hierarki dari atas ke bawah, tetapi sebuah kepemimpinan yang didasarkan pada “meja bundar” atau musyawarah, rakyat bukan lagi dianggap sebagai bawahan, tetapi rakyat kini dipandang sebagai perunding, dimana pemimpin akan mendengar suara rakyat, dan bermusyawarah serta ko-operatif dalam membuat kebijakan-kebijan yang nantinya akan dijalankan bersama sebagai partner bukan sebagai bawahan.
Seorang pemimpin haruslah memiliki perilaku yang baik, bagaimana seorang pemimpin haruslah menjadi seorang yang memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya. Dalam sebuah karya ilmuan islam al Ghazali yang berjudul At Tibr Al Masbuk Fi An-Nasihatil Muluk beliau megungkapkan “jika seorang raja (pemimpin) berwatak baik dan bajik, maka para pejabatnya akan baik dan bajik pula. Tapi bila ia lacung, abai pada kewajiban dan seenaknya... maka para pejabat yang yang menerapkan kebijakan-kebijakan sang raja juga segera akan menjadi pemalas dan korup.
Etika kepemimpinan lainnya yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin adalah keterbukaan. Maksudnya seorang pemimpin harus terbuka dan dan dekat kepada rakyatnya. Dalam sebuah pepatah arab dikatakan bahwa “ tiada yang lebih merusak bagi sang raja, selain keangkuhan dan keberjarakan dengan para abdi dan rakyat. maka dapat dikatakan bahwa apabila seorang pemimpin tidak terbuka dan tidak dekat kepada rakyanya maka akan menghambat komunikasi kepada seluruh rakyatnya dan juga akan menimbulkan ketidakpekaan terhadap suara rakyat.
Pada saat ini para pemimpin negeri ini cenderung mementingkan kepentingan golongannya ketika sudah dipilih menjadi pemimpin bangsa. Hal ini tentunya merupakan kesalahan yang fatal. Seorang pemimpin haruslah mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan golongannya atau hanya segelintir elit kepentingan, seorang pemimpin tidaklah patut untuk terkurung dalam kungkungan kepentingan kelompok.
Apakah seorang pemimpin harus memiliki wawasan global? Jawabanya adalah ya. Mengapa? Kita hidup di satu dunia satu tempat yang sama, satu palnet yang bernama BUMI, seorang pemimpin yang ideal harus memahami hal ini, berbagai masalah global seperti : pemanasan global, kerusakan ekosistem, kelaparan, perkembangan ekonomi dunia dan isu-isu dunia lainnya.
Isu nasionalisme dianggap penting belakangan ini, isu ini digulirakan terkait dengan kebijakan pemerintah yang dianggap menjual bangsanya kepada pihak asing. Seorang pemimpin yang ideal haruslah memiliki sifat nasionalis yang kuat agar kebijakan yang dibuat adalah kebijakan yang berdasarakan kepentingan bangsanya.
Toleransi merupakan salah satu kriteria dalam etika kepemimpinan. Dalam kemajemukan bangsa. dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki rasa toleransi, dan mampu mengajarkan rakyatnya akan nilai-nilai toleransi. Tileransi dibutuhkan dalam menjaga integrasi dan harmoni kehidupan di indonesia.
Dan yang paling penting adalah seorang pemimpin haruslah menghayati dan mengamalkan nilai-nilai pancasila yang merupakan identitas bangsa Indonesia, seorang pemimpin yang bangga menjadi bangsa Indonesia.
Kita sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, Bangsa yang kita cintai, haruslah bijak memilih pemimpin dan apabila mencalonkan diri untuk memimpin bangsa ini maka pimpinlah dengan hati nurani yang poin-poinnya terinci dalam etika kepemimpinan, mari kita jadikan sejarah kepemimpinan yang mengecewakan ini sebagai pelajaran untuk menatap Indonesia ke depan dengan optimisme tinggi dalam menyongsong Indonesia yang lebih baik.

CYBER-COSMOPOLITANISM SOCIETY

(KEMAJUAN TEKNOLOGI VS DISORIENTASI NILAI-NILAI KEINDONESIAAN)

Kita saat ini hidup di abad 21, abad dimana modernisasi terjadi di semua lini kehidupan, abad yang disebut sebagai abad teknologi, dimana teknologi berkembang sangat pesat, abad ini juga disebut sebagai Cyber-cosmopolitanisme society, yakni abad dimana seakan tiada batasan antara kehidupan di satu belahan dunia dan belahan dunia yang lain, manusia kini sudah terkoneksi VIA komunikasi virtu, baik itu electronic media, social network dan lain-lain. Tidak hanya itu, alat transportasi pun semakin berkenbang, sebagai pembanding, dahulu jarak antara jakarta jogjakarta ditempuh dengan waktu satu hari penuh menggunakan kereta, namun sekarang waktu tempuh antara jakarta dan jogjakarta hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Kemajuan teknologi seperti ini tentunya membawa berbagai kemudahan bagi masyarakat penghuni bumi umumnya, dan masyarakat indonesia khususnya.

Penduduk indonesia banyak diuntungkan dengan adanya kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi, dahulu untuk berhubunngan satu sama lain, kita harus mengirim surat yang akan samapai ke tempat tujuan dalam waktu paling cepat satu hari, namun sekarang hanya buth waktu beberapa detik untuk menghubungkan seseorang yang ada di sabang dan yang ada di merauke, dengan menggunakan telepon genggam. Selain itu adanya media jejaring sosial, seperti twitter maupun facebook, memberi dampak sangat besar terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat. Baru-baru ini saja di facebook terdapat gerakan sejuta dukungan bagi prita mulyasari yang kita ketahui. Dengan adanya jejaring sosialpun masyarakat kini semakin sadar dan kritis terhadap persoalan yang ada di negeri ini. Masalah politik contonya, sebelum adanya kemajuan teknologi baik telekomunikasi maupun jejaring sosial, hal-hal yang bersifat politis itu “hanya” bahan perbincangan pemerintah sebagai pemegang tampuk kekuasaan saja, namun sekarang, hal-hal yang bersifat politis dibahas oleh berbegai kalangan yang ada di masyarakat, mulai dari intelektual sampai tukang becak pun membicarakannya, mata masyarakat kini semankin terbuka dengan adanya jejaring sosial maupun media masa yang berkembang pesat. Disamping dampak-dampak positif dari berbagai kemajuan, namun kita tidak boleh larut dalam hegemoni kemajuan teknologi yang ada. Tentunya kita juga harus menilik dampak negatif dari berbagai kemajuan teknologi yang sudah dicapai.

Dengan majunya teknologi yang ada sekarang, hal ini memungkinkan bangsa ini kehilangan jati dirinya sebagai bangsa, isu-isu yang berkaitan dengan SARA akan mudah tersulut dan juga kemajuan teknologi akan meberikan ruang yang longgar bagi terjadinya disitegrasi bangsa.

Pertama, dengan adanya kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, secara otomatis, suka atau tidak suka, penduduk bangsa ini akan bersinggungan langsung dengan dunia luar yang memiliki budaya yang berbeda—jauh berbeda atau hanya sedikit berbeda. Dan akibat dari pesinggungan itu sedikit banyak masyarakat indonesia akan terpengaruh dengan budaya lain. Pengaruh itu ada yang berupa hal positif ataupun hal negatif, contohnya, dengan persinggungan itu, masyarakat indonesia seakan melupan budaya sopan santun asli timur yang termashyur di seluruh dunia, orang kini sudah tidak malu dalam mengungkapkan bahasa-bahasa kasar yang seyogyanya tidak diucapkan oleh orang yang memiliki budaya toto kromo ketimuran, orang-orang kini secara sadar mengumbar hal-hal yang berbau porno yang tidak sesuai dengan budaya timur. Tidak hanya itu, dengan persinggungan dengan budaya lain, seakan masyarakat indonesia sudah kebablasan dalam menggunakan berbagai jejaring sosial. Dan dampak yang cukup parah adalah bangsa ini akan melupakan jati diri nation nya, “PANCASILA” dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Pancasila seakan bukan menjadi tanda pengenal dan alat integrasi bangsa. Contohnya banyak terjadi konflik antar etnis yang berawal dari media jejaring sosial, masyarakat kini semakin apatis dengan budaya gotong royong yang merupakan falsafah asli milik Indonesia, kalaupun ada itupun hanya sekedar seremonial belaka.

Kedua, dengan kemajuan teknologi yang ada, maka secara tidak langsung juga akan membuka “jalur” konflik antar kelompok yang berbau SARA, tentunya kita belum lupa dengan kejadian di maluku beberapa waktu yang lalu, hampir saja konflik maluku akan berkobar kembali, menurut sebagian saksi, komflik yang hampir saja pecah itu disebabkan karena adanya informasi tentang terbunuhnya seorang tukang ojek yang dilakukan oleh kelompok etnis yang lain, informasi yang sama sekali tidak benar ini disebar melalui berbagai media komunikasi, baik itu SMS maupun jejaring sosial yang ada. Selain itu banyak lagi konflik-konflik lain baik itu bersifat individual maupun komunal.

Ketiga, kemajuan teknologipun memberikan “jalur” bagi terjadinya disintegrasi bangsa. Mengapa? Sebelum kita menjawab, mari kita renungkan sejenak tentang beberapa kejadian yang terjadi di negeri ini, pertama, seperti yang disebutkan diatas tentang kejadian maluku, kedua yakni, dengan kemajuan teknologi, masyarakat seakan mengalami disorientasi nilai-nilai “kebudayaan” bangsanya sendiri, hal ini terjadi akibat dari ke-AKU-an yang banyak disebutkan di media sosial. Dengan adanya keakuan suku-suku, seperti di berbagai media sosial muncul berbagai gerakan yang sporadis yang mengatasnamakan kelompok-kelompok tertentu, baik itu suku, agama, ras ataupun yang lainnya, masih segar dalam ingatan kita tetang kejadian konflik sampang madura, sekelompok orang yang menatasnamakan satu agama menyerang saudaranya sendiri yang dianggap berlainan aliran, menurut penuturan saksi, hal ini karena adanya salahnya pemahaman tentang suatu kelompok yang kemudian dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang beratasnamakan dendam. Kita juga tidak lupa dengan kejadian di cikeusik, dan kejadian-kejadian yang menyebabkan disintegrasi yang disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi yang disalahgunakan dan (juga) disalahartikan,

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana kita menyikapi kemajuan teknologi yang mau-tidak mau, suka tidak suka harus kita hadapi?

Sebagai masyarakat dunia yang sama-sama hidup dibumi, kita harus menggunakan dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk berkomunikasi, mengenal, membangun rasa “kosmopolitanisme” sebagai satu dunia, one world, one unity dalam menjaga kelestaraian kehidupan dunia, seperti masalah pemanasan global, perubahan cuaca yang ekstrem, kekurangan pangan di suatu belahan dunia, dan membangun rasa solidaritas sebagai makhluk penghuni bumi, baik solidaritas terhadap sesama manusia, seperti pemecahan masalah kelaparan, kesetaraan, pendidikan dan lain-lain. Dan juga sesama makhluk penghuni bumi, seperti ancaman kehancuran ekosistem bumi, pembalakan liar, pembunuhan dan perdagangan hewan langka. Hal ini penting karena dengan adanya media-media yang memudahkan, masyarakat dunia diharapkan semakin sadar bahwa kita adalah makhluk yang hidup di satu bumi, dan sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan bumi demi menjaga keharmonisan kehidupan di muka bumi,

Tetapi, kitapun harus bijak dan arif menggunakan kemajuan teknologi yang ada, terutama kemajuan telekomunikasi dan jejaring sosial. sebagai bangsa “PANCASILA” kita harus memiliki filter dalam menerima berbagai serangan budaya yang masuk melalui jejaring sosial maupun telekomunikasi. Kita boleh saja menerima budaya baru yang memiliki dampak positif bagi masyarakat indonesia, tetapi kita juga harus memiliki rasa ke-timuran yang menghargai sopan santun, kita harus memiliki standing point sebagai orang timur, sehingga kita tidak terbawa arus. Selain itu, masyarakat juga membutuhkan peran pemerintah, baik dalam penguatan rasa “kepancasilaan” dan juga peran dalam membuat regulasi yang berdampak positif bagi masyarakat, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menebarkan dan menguatkan rasa kepancasilaan dan rasa keindonesiaan. Regulasi yang dibuat pemerintahpun harus menanamkan standing point sebagai warga negara Indonesia. Sehingga kelak dikemdian hari masyarakat indonesia tidak mengalami disorientasi terhadap jati dirinya sebagai “BANGSA INDONESIA.” Contoh kongkretnya, pemerintah harus membangkitkan kembali rasa dan nilai kepancasilaan terutama kepada kaum muda, dengan berbagai cara yang menarik tentunya, seperti, pengajaran tentang nilai-nilai pancasila baik di sekolah maupun ditempat-tempat umum melalui berbagai event yang menarik, seperti, pagelaran konser musik pop anak negeri yang dibalut dengan musik-musik serta kearifan budaya lokal, seperti kolaborasi pemusik indonesia dengan musik keroncong, atau yang lain-lain, pemerintah juga semestinya menggiatkan kegiatan-kegiatan sosial bagi pemuda dalam membangun budaya gotong-royong yang merupakan jati diri indonesia, kegiatan-kegiatan itu harus dikemas dan dipublikasikan dengan apik seperti melalui jejaring facebook contohnya, sehingga dengan sendirinya kesadaran masyarakat akan jati diri indonesia akan terbangun.

Selain itu, penguatan nilai-nilai pancasila sebagai alat pengintegrasi bangsa haruslah digalakkan kembali, agar tidak terjadi konflik-konflik yang menyebabkan disintegrasi bangsa.

Dan himbauan kepada orang tua, agar selalu mengikuti perkembangan teknologi yang ada, mengapa? Hal ini dikarenakan pentingnya peran orang tua dalam pengawasan dan edukasi bagi anaknya dalam menggunakan kemajuan teknologi, apabila orang tua memahami kemajuan teknologi yang ada, tentunya proses edukasi kepada anak akan effektif, orang tua dapat mengarajhkan mana yang baik dan mana yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa INDONESIA. bagaimanapun keluarga adalah tempat pertama pembangun karakter anak, dan dalam ruang lingkup yang besar, merupakan pembangun karakter bangsa.

SALAM SAHABAT,

AL FAQIR

JALALUDDIN AR RUMI (THE WAY OF LOVE)




Sungguh, cinta dapat mengubah sesuatu yang pahit menjadi manis..

Debu beralih menjadi emas..

Keruh menjadi bening..

Sakit menjadi sembuh…


Penjara menjadi telaga..

Derita beralih menjadi nikmat..

Kemarahan sirna menjadi rahmat..


Cinta adalah sayap yang sanggup menerbangkan manusia

Yang membawa beban berat ke angkasa raya..

Dari kedalaman mengangkatnya ke ketinggian

Dan dari bumu ke bintang tsunariya…

( maulana Jalauddin ar rumi)


Sungguh sangatlah indah gubahan sastra karya seorang sufi Islam, seorang yang sangat mencintai kemanusiaan, dan seorang yang sangat cerdas dalam menyelesaikan berbagai persoalan, beliau maulana jalaluddin Ar-Rumi, atau lengkapnya, Jalaluddin Ar-rumi muhammad bin hasin al khattabi al bakri, beliau dilahirkan di balkh ( afganistan ) 13 september 1207 masehi, beliau diklahirkan di kalangan keluarga yang shalih, ayahnya adalah seorang guru agama di balkh.

Jalaluddin ar rumi adalah seorang pemikir sekaligus sufi yang sangat kharismatik, melalui karangannya yang berjudul al matsnawi al maknawi yang termashur, beliau mengungkapkan berbagai puisinya tentang cinta, beliau mengungkapkan bahwa pemahaman tentang dunia ini hanya mampu dicapai melalui cinta, bukan melalui empiris yang hanya menggunakan indra duniawi, perkataan beliau ini merupakan kritiknya terhadap falsafah barat* (baca yunani) yang sangat mengagung-agungkan akal dan empiris yang berasal dari indera belaka, beliau mengungkapkan, bahwasanya akal terbagi atas dua yakni, akal jasmaniyah dan akal batiniyah, akal jasmaniyah adalah fatamorgana yang hanya akan mengantarkan manusia pada pengetahuan yang dangkal, tetapi akal batiniyah adalah akal yang sesungguhnya, akal yang akan mengantarkan manusia kepada yang maha sempurna, akal yang mengajarkan kepada pengetahuan yang sangat dalam. Tetapi tidak semua manusia mampu membuka akal bathiniyah ini, hanya orang-orang yang mau membuang “jubah” keburukannya dan menyucikan “hatinya”-lah yang mampu membuka hati bathiniyah. Beliau menganalogikannya dengan sebuah kaca, dimana hanya kaca yang bersihlah yang akan ditembus oleh sinar cahaya, apabila kaca tersebut kotor oleh noda, maka sulit bagi cahaya untuk menembusnya, dan apabila seseorang ingin dalam dirinya dimasuki cahaya, maka ia haruslah terlebih dahulu membersihkan kaca itu dari noda-noda yang mengotori kaca tersebut.

Jalaluddin Ar-Rumi pun pernah mengungkapkan bahwasanya manusia adalah makhluk yang sempurna, tujuan manusia diciptakan adalah untuk berbuat baik, manusia diciptakan karena Tuhan memacarkan kepada bani adam- anak cucu adam, cinta dan anugrahnya. Manusia diciptakan sebagai sebaik-baiknya ciptaan (lihat surat at tien). Maka menurutnya manusia seharusnya menebar banyak cinta di muka bumi, bukannya menebar kebencian, baginya, kemanusiaan adalah sangat berharga, dimana setiap nyawa manusia sangatlah bernilai. Rumi mengkritik orang-orang yang membunuh atau menghambakan dirinya pada peperangan, baginya setiap orang apabila memiliki cinta yang mendalam maka dirinnya akan mengerti bagaimana berharga dan sempurnanya seseorang. Manusia diciptakan dengan penuh kasih dan cinta, maka sudah menjadi fitrahnya lah manusia menebar cinta di numi tuhan ini.

Mesikpun beliau merupakan seorang sufi, tetapi beliau menolak untuk meninggalakan kehidupan dunia, seperti yang dilakukan oleh banyak sufi-sufi lainnya. baginya apabila orang-orang yang mampu membuka akal bathiniyahnya, maka ia tidak akan meninggalkan kehidupan dunianya, manusia dibekali potensi, kemampuan dan daya, oleh karena itu manusia diwajibkan mengikhtiarkan kehidupannya di dunia, manusia harus berusaha untuk mendapatkan kehidupannya di dunia, beliau pernah berkata, “bukankah indah apabila harta yang baik dimiliki oleh seorang yang shalih, beliaupun pernah mengungkapkan bahwa apabila seseorang yang mampu membuka hati bathiniyah tidak mau menjadi pemimpin, maka akan ada orang-orang fasik dan dzalim yang menguasai dunia.

Pertanyaan kemudian kepada siapakah manusia seharusnya melabuhkan cinta sejatinya, Rumi pun menjawabnya dengan syairnya yang indah, cinta yang sejati hanya ditujukan kepada sang pencipta yang maha sempurna, pencipta dari segala jagad raya, apabila ia membaktikan cintanya kepada yang maha sempurna, maka yang maha sempurnapun akan menuntunya kepada kesempurnaan, yang maha sempurna, Dialah Tuhan yang maha kasih dan penyayang.pencipta dari segala makhluq di jagad raya.

Sahabat,

Belajar dari Maulana Jalaluddin Ar-rumi, sebagai seorang manusia, marilah kita menyucikan diri kita untuk membuka akal bathiniyah kita menuju yang Maka Kasih, tebarkanlah cinta terhadap sesama, bukanlah kebencian dan amarah yang akan menghancurkan peradaban dunia, cinta, hanya dengan cinta maka hidup kita akan lebih berharga, sebuah benda kuno yang usang, akan bernilai jika dicintai oleh seorang kolektor pencinta barang antik,

Tebarkan cinta di Bumi, samapaiakan salam perdamaian, maka cinta akan menjelma menjadi sebuah kebahagiaan, kebahagiaan bagi semua, bagi kita, makhluk ciptaan dari Yang Maha pencipta.

Salam sahabat,

Al faqir,

MY PROFILE


CURRICULUM VITAE

Name : Agung prasetyo
Nick name : Agung
Birth and place : Bandar lampung,April 18th 1991
religion : Islam
sex : Man
Nationality : Indonesia
Martial status : Single
Hobby : writing, listening to music, reading
Language : Indonesia, Javanese, Lampungnese, English both brithis and american, Arabic both contemporary and old,
Permanent adress : Jalan yos sudarso gang kenari II, rt/rw 004, no 42, kel. Sukaraja, kec. Teluk betung selatan, kota. Bandar lampung, provinsi lampung
Temporary address : Jalan Mampang Prapatan XII NO. 26 Jakarta Selatan
Mobile phone : 085773978502
E-mail : sahabatprasetyonisty@gmail.com
Blog : sahabatprasetyonisty.blogspot.com
Twitter : @prasetyonisty
Facebook : Agung Prasetyo
Google+ : Agung Prasetyo