Seorang Kakek si pepnjual korek Suatu ketika di pagi hari yang menawan, aku berjalan di keramaian pasar, sejenak pandangan mataku tertuju pada seorang laki laki tua penjual gas korek api isi ulang yang sedang brkomat kamit, sejenak terlintas dalam fikiranku pertanyaan " ya allah masih adakah orang yang mau mengisi korek gas itu, padahal hanya dengan membeli seribu rupiah korek gas yang baru sudah ditangan,kemudian apa yang diucapkan oleh orang tua itu?" Dengan penuh rasa penasaran kudekati seorang kakek tua itu, subhanallah alangkah kagetnya ketika aku melihat di tangan si kakek terselip sebuah tasbih, selain takjub, ada rasa malu terbesit dalam benakku karena selama ini aku terlalu sibuk dengan urusan duniaku,tetapi sedikit sekali aku sempatkan waktu untuk mengingat sang MAHA KUASA, dengan rasa penasaran yang masih menghinggapi fikiran ini ku beranikan diri untuk bertanya " assalamualaikum mbah, nyuwun sewu, mbah jualan apa ya??, kakek tersebut menjawab dengan sedik terkejut, " em.. wa wa'alaikum salam nak, niki nak mbah jualan isi korek gas, " aku pun kembali bertanya " maaf ya mbah kalau boleh saya tahu, apa sudah ada yang membeli mbah hari ini?? Dengan senyuman khas yang ia tebarkan seraya si kakek menjawab, " Alhamdulillah nak sudah tiga hari ini belum ada yang membeli." Jawaban si kakek seperti petir di siang bolong, di satu sisi aku sangat terkejut, dan di sisi lain aku sangat miris, aku terkejut karena si kakek masih bias berucap syukur "alhamduliilah " padah si kakek itu sudah tiga hari belum ada yang membeli. Rasa penasaran ini semakin tempompa, kemudian aku bertanya "mbah udah makan?" si kakek merespon pertanyaanku dengan jawaban yang membuatku semakin malu dan sangat takjub " Alhamdulillah mbah sudah dua hari belum makan" " allahuakbar, hati ini terasa sangat bergeming, miris, sedih, takjub dan teertunduk malu, aku malu karena aku jarang sekali berucap syukur alih alih selalu mengeluh, aku sedih karena si kakek yang tua renta ini sudah dua hari belum saja makan, dalam hatiku marah berkobar teramat sangat " mengapa orang orang di pasar ini tidak memiliki empati samasekali, ataukah mata dan persaaan mereka sudah terkunci?? Apakah harta dunia sudah membutakan mereka sehingga mereka tidak melihat ada saudaranya yang lapar dan lemah??" akumulasi pertanyaanku sudah tak terjaga, amarah ini takpun kunjung padam. Sejenak aku tenangkan diri, sesaat terbesit dalam hati ini untuk bertanya, bak seorang wartawan aku kembali bertanya " nyuwun sewu mbah kenapa mbah masih berucap Alhamdulillah dan bertasbih sedangkan bapak sendiri belum makan?" dengan senyuman yang membuat saya semakin bingung, dengan perawakan yang tenang si kakek menjawab " begini anak muda, Hidup, mati, segalanya sudah ditentukan oleh yang maha kuasa, boleh saja kita mengejar dunia kita, tetapi untuk apa kita mengejar dunia tanpa ridho allah, anak muda, tanpa ridho allah kita hanya akan mendapatkan hal yangtidak berguna, pada akhirnya, penat, rasa putus asa, dan hidup tidak tenang akan menyelimuti anak muda, ingat anak muda, hanya kepada allahlah kita meminta dan hanya kepada allahlah kita beribadah, wastainu bisshobri washolah, jika anak muda memahami dan mengamalkan, ridho dan rahmat allah slalu menemani kita, Wahai sahabat, Kita sudah sangat sibuk dengan urusan dunia yang kita kejar, tetapi, tidakkah kita merenung sejenak tentang seorang kakek yang dengan sabar dan tawakal tanpa mengeluh menjalani hidup, meskipun tidak makan, si kakek masih tetap mengingat allah, hal ini kontras sekali dengan kehidupan sehari hari, ketika senang, kita seringkali lupa untuk bersyukur ketika kita mendapatkan kebahagiaan bahkan kita sering kali lupa untuk mengucap Alhamdulillah dan kita pun seringkali lupa untuk tetap ingat allah dan bersyukur ketika hal yang buruk menimpa kita,kita malah terlalu banyak mengeluh dan menyalahkan nasib, bahkan kita berprasangka buruk pada sang maha pengasih dengan dalih tuhan tidak menyayangi kita, Sahabat, Tanpa ridho allah, apapun usaha kita, baik usaha yang tidak menyalahi norma kebaikan, maupun usaha yang jelas jelas keluar dari hal bermanfaat, tidak akan pernah membuat diri kita hidup dalam kepuasan, ketenangan maupun kebahagiaan. Sebaliknya, hidup kita akan diliputi rasa was was, yang akhirnya menjerumuskan kita pada satu pembunuh berdarah dingin yakni " stress yang teramat sangat" mari kita renungkan, Sahabat yang slalu disayangi tuhan, Dengan tulisan sederhana ini saya mengajak kita unutk membuka mata, hati dan perasaan kita untuk melihat sekitar kita, dan peduli tehadap orang yang membutuhkan pertolongan kita tanpa membedakan siapapun itu, sahabat, sekecil apapun bantuan kita allah pasti selalu membalas dengan kebaikan, Semoga tuhan merahmati kita semua, amin Sahabatmu,



0 comments:
Post a Comment