GADIS DIBALIK JENDELA

SEBUAH NOVEL BERSERI YANG AKAN TERBIT SETIAP BULAN.

REFLECTION

Friday, 15 June 2012

over the rainbow.......

suatu ketika dalam hidupku. pagi itu, bandar lampung terasa begitu sejuk. ku mulai semua sepeerti biasa--meminta kepada tuhan tentang sesuatu yang sangat ku harapkan itu semua terjadi. masih teringat jelas dalam ingatanku ketika aku masih menjadi punggawa putih abu-abu. secarik surat datang dari pak pos yang dialamatkan padaku--kepada agung prasetyo-- dari departemen agama. pengumumannya adalah tentang keberhasilanku menembus test dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studiku di sebuah universitas di negeri cleopatra al azhar namanya kawan. pagi itu adalah satu momen terbaik dalam hidupku. suatu kebanggaan bagiku kawan..

singkat cerita, satu bulan sebelum keberangkatan, aku dan keluargaku mengadakan acara syukuran. setelah syukuran berakhir dan aku sudah mempersiapkan semuanya tiba-tiba ada sebuah telpon dari seorang pegawai di departeman agama yang mengabariku bahwa keberangkatan tahun itu dibatalkan. shock, kaget, tidak percaya, sedih, marah, semuanya bercampur jadi satu kawan. dan singkatnya aku tidak bisa berangkat ke sana kawan. sejak itu kawan.. ya sejak itu aku ragu, aku ragu tentang tuhan, apa itu tuhan, dimana tuhan? kalau ada betapa jahatnya tuhan..

aku sempat frustasi, satu kalimat yang selalu menggodaku kawan.. ya kalimat bejat itu adalah bunuh diri. aku berkali-kali mencobanya namun gagal.. lagi dan lagi.. pernah suatu ketika aku salah meminum racun serangga.. bukannya racun yang aku minum melainkan teh manis buatan ibukku yang sudah tiga hari membusuk tak ku minum. bahkan sempat aku akan dibawa ke suatu pondok di kota tasikmalaya untuk mengobati frustasiku..

tiga bulan berlalu...
pagi itu.. ya pagi itu ketika aku keluar dari kamar yang terasa amat pengap.. kamar mungil itu terasa ingin berontak karena kekotorannya, sarang laba-laba bahkan menari dengan tenangnya. tanpa tujuan yang jelas akhirnya aku sampai di sebuah pasar, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang nenek tua renta yang dengan ringkih mengangkat tumpukan sampah. dengan rasa penasaran, aku dekati si nenek. ku mulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan kawan.. "nek udah tua lah kok masih kerja?" si nenek renta itu menjawab "ya kalo ga gini ga makan nak" aku pun semakin penasaran kawan. aku bertanya kembali "udah makan nek?" alhamdulillah belum nak" kata itu kawan... alhamdulillah.. kenapa harus kata itu kawan.. padahal dia belum sempat merasakan nikmatnya sarapan pagi walau sesuap. aku bertanya kembali.. "nenek seneng kerja kaya gini??" si nenek menjawab, "ya alhamdulillah seneng, kerja ya kalo disukuri ya pasti seneng toh" kata itu lagi.. lagi... "alhamdulillah" ah... mengapa kawan.. mengapa hanya sebagai seorang tukang sampah si nenek masih bisa berucap alhamdulillah..? tanpa ada aba-aba si nenek berucap " nak.. kalo idup bersukur insya alloh pasti senang" jawaban itu ibarat guntur di siang bolong. kalimat itu.. terngiang di nuraniku yang sudah lama tak berfungsi kawan.. sepanjang jalan aku memikirkannya.. dan sesampainya di rumah.. ku lihat lagi wanita itu.. ya dia ibuku dan dengan senyumnya dia menyapa.. padahal aku tahu di dalam hatinya sedih melihat anaknya yang frustasi.. anak itu aku kawan... dan kata itu lagi.. diucap oleh ibukku kawan "alhamdulillah" ku tanya kepada ibuku "kok alhamdulillah?" dengan nada sederhana ibukku berucap.. alhamdulillah masih bisa idup hari ini"
dua wanita ini menyadarkanku kawan.. betapa aku tidak pernah bersyukur.. bahkan aku terlalu lembek untuk menghadapi ujian ini kawan...


pada hari itu hidupku berubah kawan, sejak hari itu aku mulai hariku bukan dengan meminta kepada tuhan kawan.. tapi aku bersyukur..

aku memulai segalanya dari awal. aku mencoba bangkit, dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur. bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun. optimis, syukur.. kata itu yang mampu mengantarkanku pada sebuah kehidiupan baru. ya aku diterima di satu universitas di kota jakarta kawan, beasiswa.. gratis..

ya kini aku tahu kawan..
tuhan selalu memiliki rahasia yang tak pernah kita duga..keyakinanku akan kekuatan gusti Allah kini semakin baik. tuhan mengajarkanku untuk menjadi manusia yang tahan banting, bersyukur..


pelajaran yang bisa aku dapat dari ini adalah bersyukur.. bersyukur kawan.. nikmati saja semuanya dan syukuri..
dan ketika kau mendapatkan sebuah hal yang pahit.. pahamilah kawan.. Allah memiliki sesuatu yang besar untukmu..

"bukankah setelah hujan lebat dan guntur yang sangat menakutkan kita bisa melihat pelangi yang indah..
pertanyaannya kemudian apakah kita mensyukuri semua ini??

Monday, 11 June 2012

KOTA SEJUTA BUNGA "MAGELANG"

in the name of Allah



MAGELANG, JUNE, 9TH 2012



Suatu pagi, ketika toko-toko masih sepi. padahal waktu sudah menunjukkan pukul 09.12 pagi. MAGELANG, ya kota kecil ini terasa amat "lambat." disudut-sudut kota jumawa orang-orang sedang menanti toko-toko membuka pintunya, dan disudut lain orang-orang tua sedang menjajakan bunga-bunga: mawar, melati, kamboja, dan beragam jenis lainnya--tidaklah berlebihan jika kota ini dijuluki kota sejuta bunga.

selain karena "lambatnya" waktu berjalan.  ada fakta lain yang menurut penulis sangat merepresentasikan nilai-nilai keindonesiaan yang sudah dikenal seantero jagad. indonesia yang diikenal sebagai bangsa yang "BERSAHABAT." ya... disini,dikota ini penulis menemukannya. penulis menemukan pengalaman yang cukup unik, ketika "orang asing" (*baca : orang yang belum dikenal) menyapa penulis di sepanjang jalan. beragam panggilan yang penulis temukan; bos, mas, bro, den..! pembaurannya pun sangat terasa cukup hangat. orang-orang pendatang dan pribumi--tanpa ada jurang-- saling menyapa. "TOLERANSI" ya itulah satu kata yang ada dibenak penulis untuk mendeskripsikan dinamika kehidupan kota sejuta bunga MAGELANG.

dari sekelumit cerita yang penulis alami di kota ini, setidaknya kita dapat belajar banyak hal dari kota sejuta bunga ini.

pertama, jika ditilik dari segi budaya dan ekonominya. kota ini cenderung lamban dalam kegiatan ekonominya.  terbukti ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.12 toko-tokko atau mall belum dibuka. penulis membandingkan kota ini dengan kota metropolitan DKI Jakarta, dimana kota ini memulai aktivitasnya bahkan sejak subuh hari. mulai dari pukul 05.00 orang-orang sudah melakukan aktivitasnya. toko-toko sudah buka paling lambat pukul 08.00 pagi.penulis menyadari hipotesis ini terlalu lemah, karena fakta yang diberikan masih bersifat "personal experience" bukan "observation" namun pengalaman penulis cukup untuk membuat common view bagaimana dinamika kehidupan kota magelang ini. dan tentunya common view ini baik untuk diteliti lebih lanjut.

kedua, menilik dari sisi humaniora, magelang adalah kota yang sangat cocok untuk dijadikan model "TOLERANSI." dan kota ini pula cocok dijadikan sebagai "the real indonesia." pengalaman yang penulis dapatkan, ketika orang-orang saling menyapa dengan hangat, dan toleransinya pun dapat dilihat dari bangunan yang terdapat di sekita alun-alun kota, terdapat masjid agung di satu sudut, dan disudut lain terdapat kelenteng dan bangunan keagamaan lainnya..

kota ini sangat cocok dijadikan sebagai kota wisata...
the real indonesia.......